Jika Tuhan tak melarang
akan kupakai air matamu untuk berwudlu
bagaimana lagi kubuktikan
agar engkau memaafkan
cermin parasmu kusam berbalut ragu
seakan terkelupas setiaku padamu
tak adalagi tirai
tiada lagi hasrat membara
wahai prasangka yang menggila
hendak kaumainkan hina antara jiwa
gelas cintaku telah retak
bersama hangat prasangka antara kita
9/16/09
8/31/09
Jingga
Jingga....
Pengap mendekam dalam hati
sesak menyeruak dalam relung urat nadi
liar hasrat dalam kelana
hampa maya lama kuraba
lenguh penuh peluh
sesekali keluh aku mengeluh
Jingga....
Takkah kau jua meraba rasa
adakah namaku di senandung mu
bagiku hatimu,ragamu,rasamu adalah mimpiku
semoga cinta tak melukaimu
8/15/09
Agustus
Agustus datang kembali
Bersama balap karung dan balap kelereng
Celoteh ria pelosok negeri
Tua muda turut berlomba
Entah berapa sarung robek bersama tawa
Ribuan meter rafia untuk berlomba
Ratusan galon cat untuk berpesta
Selanjutnya merana jua
Agustus datang kembali
Bersama mimpi dan fatamorgana
Ungkapan rasa dalam sehari
berpesta pora berfoya-foya
Rupiah terbang melayang
Seiring musik bergoyang riang
Agustus datang semua senang
Bersama balap karung dan balap kelereng
Celoteh ria pelosok negeri
Tua muda turut berlomba
Entah berapa sarung robek bersama tawa
Ribuan meter rafia untuk berlomba
Ratusan galon cat untuk berpesta
Selanjutnya merana jua
Agustus datang kembali
Bersama mimpi dan fatamorgana
Ungkapan rasa dalam sehari
berpesta pora berfoya-foya
Rupiah terbang melayang
Seiring musik bergoyang riang
Agustus datang semua senang
7/22/09
maaf.....
angin kering bertiup sudah
sejenak hati berbalut gundah
debu bercanda bersama duka
berpacu dalam sukma
diri terpaku pilu
kerling matamu beku
pucat tanpa cacat
pesona menguap lenyap...laksana mayat
duri telah tertusuk tanpa sengaja
meleleh percaya dalam kerlingan
tertanam dalam dilubuk sanubari
terhianati sepenggal hati
wahai sukma yang mempesona
maaf... hati ini berulah lagi
sejenak hati berbalut gundah
debu bercanda bersama duka
berpacu dalam sukma
diri terpaku pilu
kerling matamu beku
pucat tanpa cacat
pesona menguap lenyap...laksana mayat
duri telah tertusuk tanpa sengaja
meleleh percaya dalam kerlingan
tertanam dalam dilubuk sanubari
terhianati sepenggal hati
wahai sukma yang mempesona
maaf... hati ini berulah lagi
Subscribe to:
Posts (Atom)
