5/17/14

Pacaran Beda Agama

Pacaran beda agama. Pacaran bagi kaum remaja merupakan hal yang menyenangkan. Rasa rindu karena kasmaran menggelanyut dalam hati tiap detik dan helaian nafas. Rindu yang menggebu menjadi bumbu yang sedap dalam mimpi indah. Galau dan merana menggoda tiap gelisah...Ah masa remaja memang indah.Namun bagaimana jadinya kalau pacaran beda agama. Kisah nyata ini akan saya ceritakan pada anda.
Kisah bermula ketika sebut saja Sari (tidak nama sebenarnya) menginjak kelas XII. Gadis cantik dengan panggilan "Miss Lebay" ini terkenal cerah ceria tiada duka. Kulit putih walau agak kurang tinggi lincah seperti kijang. Dandananya pas dan setiap pakaian serta pernak-pernik perhiasan pantas dikenakan.
Suatu hari yang cerah dibawah pohon beringin depan musholla sekolah, beberapa anak bergerombol membicarakan sesuatu dengan asik namun tiada canda tawa disana, serius amat batin saya.
Saya yang kebetulan tiap pagi membantu mengatur parkir sekolah, memperhatikan dan sedikit menguping (bagian Bimbingan Konseling harus pandai menguping). Hingga sampai pada titik kesimpulan mereka ternyata membahas tentang miss lebay yang pingin pindah agama karena pacarnya anak seorang tokoh agama di daerahnya.
Waktu berlalu hingga hampir seminggu, terdengar kabar miss lebay melakukan tindakan diluar kewajaran, misalnya membawa kitab suci ajaran agama pacarnya, mulai menolak doa yang diajarkan guru agama sekolah, mulai melakukan ajaran-ajaran agama pacarnya walau sederhana, dll. Semua panik, semua bingung mau jadi apa anak ini itulah ungkapan guru agama waktu curhat di Ruang BK.
Bel istirahat berbunyi, saya panggil miss lebay (sebelumya sudah janjian), tapi dia tidak mau kalau di ruang BK mintanya di ruang selain BK dan saya menyanggupinya (mengalah untuk kebaikan pikir saya). Akhirnya saya dan dia (tanpa orang lain dilibatkan, inipun permintaannya) berkumpul untuk membahas masalah ini.
Untuk mengawali agar dia membuka diri tidak mudah, percampuran antara pengharapan dan iman menjadi seperti benang kusut. Wajahnya tidak ceria lagi, terbersit rasa curiga diwajahnya seolah-olah dia berkesimpulan saya akan meminta dia memutuskan pacarnya seperti saran teman kelasnya.
Lalu saya muali bertanya padanya apakah dia benar-benar menyayangi kekasihnya itu. Dia mengangguk dan tersenyum.
"Sebesar apa cintamu" tanya saya
"Susah diungkapkan Pak"
"Apakah pacarmu memintamu untuk berpindah agama" tanya saya pelan
"Tidak, tetapi ibu dan bapaknya yang mengharapkan saya mengikuti agamanya" katanya
" Kamu mau mengikutinya" Kata saya
"Entahlah" jawabnya mengambang
"Perlu kamu ketahui, saya tidak melarang dirimu berpindah agama. Karena agama adalah hak asasi setiap manusia di dunia ini. Semua agama itu baik dan dapat diyakini kebenarannya. Tetapi yang perlu kamu ketahui bahwa keimanan atau keyakinan seseorang tidak boleh berubah hanya karena bujukan, rayuan, iming-iming, dll. Sedangkan kondisimu saat ini, saya khawatir hanya karena takut ditinggal kekasihmu dan tidak direstui orang tuanya kelak, kamu mengganti agamamu"
"Tapi kelihatannya saya tidak bisa hidup tanpanya pak" katanya dengan nada bersemangat
"Cinta memang buta Bay (lebay-red)...Tetapi jangan mempermainkan agama dengan dalih cinta, Antara cinta dan keimanan itu beda. Cintamu pada sesama itu nafsu sedangkan cintamu pada Tuhanmu itu iman. Bagaimana mungkin kau tukar cinta Tuhanmu dengan nafsu asmaramu. Jangan jangan kamu sudah tidak cinta lagi pada agamamu?"
"Ya gitu dech Pak...kelihatannya saya lebih suka agama pacar saya, karena disana saya dapat bimbingan dan ajaran sehingga kelihatannya saya cocok dengan agamanya "
"OK...tidak apa-apa, tetapi saya mau tanya, jika ternyata ditengah jalan kamu putus dengan pacar kamu, sedangkan dirimu sudah masuk di agama pacarmu. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Entahlah.." Katanya sambil menatap tajam dan akhirnya menggeleng.
"Bay...saya tidak menyalahkanmu...saya anggap ini adalah ketololan masa muda, mencintai seseorang itu adalah hakmu, tetapi kamu harus tahu statusmu dan dia hanya berpacaran bukan suami istri, apakah memang kamu sudah berencana menikah setelah lulus nanti?"
"Tidak pak..dia mau kuliah dulu"
"Nah lho...Begini lho Bay...sebaiknya dirimu konsentrasi dulu untuk masa depan, tidak perlu dirimu terlalu jauh memasuki dunia agamanya. Bukankan seharusnya berpacaran itu saling rindu, apel tiap minggu, berbicara tentang asa dan mimpi yang ringan-ringan saja. Pacaran itu untuk saling memberi semangat bukan untuk membebani diri, apalagi merusak. Di dalam cinta tidak ada kompromi apalagi negosiasi, jika itu yang kau alami berarti cintanya tidak murni, tetapi hanya mencari keuntungan pribadi."
Lalu lanjut saya " Belum lagi posisimu sekarang kelas XII sudah mau ujian, salah satu ujian praktik adalah agama yang tidak lain adalah agamamu sendiri. Seandainya memang kamu bersikeras berpindah agama saya meminta dari hati yang paling dalam pindahlah setelah kamu lulus nanti. Jangan bersikap konyol hanya karena mimpi semu. Hindari konflik dengan teman sekelas karena tindakan yang tak pernah kau fikirkan masak-masak. Karena jika kamu menuruti kehendakmu kondisi kelas akan tidak kondusif. Fikirkan lagi dan minta pertimbangan orang tuamu"
"Orang tua saya belum tahu Pak"
"Jangan melakukan kesalahan kedua kalinya, orang tua seharusnya sangat penting untuk dimintai pertimbangan, walaupun pasti ada pro dan kontra, alangkah bijak jika kamu mengatakan diawal daripada beliau merasa dihianati karena kamu tidak mengatakan yang sejujurnya"
"Jadi saya harus bagaimana Pak"
"Pertama, pastikan bahwa cintamu bukan barter untuk saling mencari keuntungan, Kedua yakinkan pada pacarmu kalau jodoh takkan kemana dan setelah resmi nanti kamu siap pindah ke agamanya, hal ini untuk mengantisipasi tekanan dari ortunya. Ketiga Minta pertimbangan orang tuamu dalam setiap langkah, keempat jadikan pacaran motivasi untuk lulus bukan menyiksamu untuk tidak menjadi lulus. Bisa dimengerti"
"Bisa Pak..." 
Setelah bercakap-cakap hampir 2 jam Miss Lebay saya ini, sedikit mendapat pencerahan walau masih galau. Entah apakah kelak dia akan pindah kelain hati...Biarlah Tuhan yang memberikan jalan terang.

No comments:

Post a Comment