5/17/14

Najis Anjing


Dirimu menggonggong lagi
semburkan najis penuh kebencian
liurmu menjijikkan
wahai anjing serupa manusia

Muak sudah jengah telah
hidup segan mati tak pasti
wahai pimpinan gerombolan anjing
enyah engkau dari kerumunan kami

daging kami telah habis
tinggal tulang belulang sajalah adanya
masihkah kau minati jua
wahai tamak tak kenal derma

Puisi ini terinspirasi oleh beberapa keluhan siswa pada saat konsultasi di Ruang Bimbingan Konseling. Beberapa peserta didik mengeluh karena kakak kelas mereka sering meminta jatah upeti saat istirahat. Mereka selalu main keroyokan dan meminta uang dengan paksa.Karena kejadian tersebut , saat dibawah pohon mangga sekolah saya buat puisi dan kasus penyimpangan tersebut saya masukkan ke materi bimbingan konseling di dalam kelas.

No comments:

Post a Comment