8/20/18

Mencengkeram Mimpi


Mencengkeram Mimpi

Anakku ...
Terbanglah dengan mimpimu
Bertenggerlah di puncak pencakar langit
Hinggapkan cakarmu di besi besi beton
Berkicaulah diantara koral dan semen
Rangkai ribuan bendrat dengan paruh baja
Agar karyamu menjulang mempesona
Anakku ...
Bukalah kanvas impian
Lukis dengan pensil keagungan
Bentangkan jangka, penggaris dan siku
Gambarlah gedung di langit biru
Menarilah bersama skala dan angka-angka
Berdendang dengan matematika dan mekanika
Agar tak goyah diterjang gempa
Anakku...
Pondasi ikhlasmu harus tertanam dalam
Semangatmu sekeras batu yang terbenam
Tiang tiang kasih sayangmu kokoh menjulang
Bangunlah mimpimu dengan sepenuh hati
Agar nyaman untuk berteduh dimalam hari
Anakku...
Mari berkelana bersama mistar baja
Mari membumi bersama konstruksi
Mari mengabdi dengan rangkaian besi
Mari mengembara dengan jiwa
Semoga peluhmu dikenang sepanjang masa
Anakku...
Aku tunggu karyamu

(4 Agustus 2018 )

Kemarau 2


Kemarau 2


Angin kering berhembus lirih
Gemerisik luruh dedaunan jatuh
Menguning pucuk-pucuk bambu
Rumput liar bergoyang pelan
Langit terang tak berawan
Dali sesekali melintasi cakrawala
Unggas berteduh di semak-semak
Sang surya bertahta di angkasa
Bumi ini telah merekah
Air menguap kelangit biru
Akar mengering tunaspun layu
Ditelan panas musim kemarau
Mayapada meminta kemurahan nirwana
Dibilik bambu doa pinta mengudara
Mengharap air turun kebumi
Menghapus dahaga di musim ini

(3 Agustus 2018)

Harapan Hampa


Harapan Hampa

Kubuka jendela hati
Dinginnya lakumu sentuh pori-pori
Perapian hasrat masih menyala
Kujaga dengan kayu pengharapan
Arloji penantian berdetak-detak
Daku masih terkungkung di penjara asa
Dinding rasa makin berjelaga
Mengharap janji yang tak pasti
Lihatlah api hampir padam
Kehangatan hampir sirna
Membeku rasaku dalam penantian
Bagai pungguk merindukan bulan
Wahai pujaan yang kurindu
Terimalah aroma cinta ini
Abu asmaramu masih ku tunggu
Walau hanya seujung kuku
Bagimu....

(2 Agustus 2018)



Transisi

Transisi


Angin mulai berhembus

Mentari menapaki jalurnya

Dingin sirna bersama embun

Riuh kicau burung di pekarangan

Udara segar di paru-paru

Daun bergoyang dibelai sang bayu

Burung srigunting terbang melayang

Sambut pagi ini dengan bernyanyi

Kokok ayam saling bersahut

Riuh rendah saling berebut

Belalang keluar dari sarang

Ikan berenang di air tenang

Alam desa ini menyejukkan

Cangkul dan petani kesederhanaan

Seiring cahaya mengangkasa

Dewi sri menanti sentuhan tangan mulia

Inilah pesona bumiku

Asri alami tanpa cela

Masih tak tergoda ekskavator perkasa

Seperti di belahan bumi lainnya..


( 1 Agustus 2018 )